Berita

Bisnis

BI Bete, Aliran Kredit Besar Kok Ke Sektor Konsumsi

Perbankan Ogah Dipaksa Sokong Sektor Riil
SENIN, 16 AGUSTUS 2010 | 01:23 WIB

RMOL. Penyaluran kredit perbankan tercatat naik. Berdasarkan ramalan Bank Indonesia (BI), lonjakan kredit yang dikucurkan perbankan bisa mencapai 24 persen hingga akhir tahun ini. Sayang, kredit itu lebih banyak ke sektor konsumsi. BI pun bete.

Deputi Gubernur BI Mulia­man D Hadad mengatakan, para ban­kir masih yakin penyaluran kre­dit tahun ini akan terus me­ngalir deras. Namun yang perlu di­sa­yangkan, menurut Mulia­man, per­­sentase penyaluran kre­dit ma­sih besar di sektor kredit kon­sum­si ketimbang sektor kredit modal kerja.

“Harusnya memang ada per­uba­han mendasar. Bank mesti­nya me­ngimbangi penyaluran kredit ke per­orangan dengan ke sektor yang lebih produktif. Jadi, para bankir ha­r­us lebih tajam me­lihat peluang (di sektor pro­duk­tif),” harap Mulia­man di se­minar Otoritas Jasa Keua­ngan (OJK) di Jakarta, belum lama ini.


Ekonom Standard Char­tered Bank Fauzi Ichsan melihat, faktor meningkatnya kredit konsumsi justru berdampak sangat positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Meningkatnya kucuran kredit konsumsi jelas akan berkorelasi dengan meningkatnya pertumbu­han ekonomi,” jelas Fauzi.

Fauzi menambahkan, dalam hal ini BI tidak bi­sa memaksa­kan agar perbankan le­bih ba­nyak menyalurkan kre­dit ke sek­tor modal kerja. Sebab, per­mintaan sektor kredit kon­sumsi jauh lebih besar jelang Lebaran.

“Bank Indonesia sah saja ber­harap perbankan lebih produktif mengucurkan kredit ke sektor modal kerja, tapi jangan dipaksa­kan. Yang terjadi sekarang, in­ves­tasi kredit konsumsi lebih besar ke­nai­kannya dari permin­taan kre­dit modal usaha, masa peng­usaha mau dipaksa. Jika ingin persen­tase kre­dit modal kerja naik, ca­ranya bena­hi dulu sektor riil,” saran Fauzi.

Meningkatnya kre­dit perban­kan di sektor kon­sum­si yang tidak sebanding de­ngan kredit di sektor modal kerja, disayangkan oleh Bank Sentral. Sebab, kredit konsumsi atau yang diberikan kepada per­orangan dinilai ku­rang produktif dan tidak mampu me­narik tenaga kerja.

Kredit konsumsi digunakan oleh masyarakat terutama jelang Lebaran untuk mencukupi kebu­tu­han sahari-harinya. Berbeda halnya jika kredit disalurkan ke­pada sektor modal kerja seperti Usaha Mikro Kecil Menengah (UM­KM) yang bisa menyerap te­naga kerja, sehingga mengu­rangi pengangguran. [RM]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya